SORONG, PBD – Sekitar 1.030 peserta dari berbagai unsur berkumpul di Kota Sorong, Papua Barat Daya, dalam PAPEDA Summit 2026, sebuah forum kolaborasi multipihak yang membahas arah pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua sejak Rabu (2/9) hingga Jumat (4/9).
PAPEDA Summit 2026 atau Papua Action for Development, Economy, and Sustainable Nature berlangsung selama tiga hari, 2–4 September 2026, dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, masyarakat adat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, lembaga riset, mitra pembangunan hingga komunitas internasional.
Ketua PAPEDA Summit 2026 Julian Kelly Kambu mengatakan forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan pembangunan Tanah Papua.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi selama tiga hari, tetapi menghasilkan langkah konkret dalam menjaga kekayaan alam Papua sekaligus memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara adil oleh masyarakat.
PAPEDA Summit lahir dari rangkaian pertemuan sejumlah gubernur di Manokwari dan Timika yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan lebih dari 50 organisasi masyarakat sipil di Jayapura pada Maret 2026.
Rangkaian pertemuan itu menghasilkan gagasan untuk membangun sebuah platform strategis yang mempertemukan masyarakat adat, pemerintah, akademisi, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil dan mitra pembangunan dalam mendorong transformasi ekonomi yang lebih regeneratif di Tanah Papua.
Tanah Papua dinilai memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu bentang ekosistem utuh terbesar yang tersisa di Indonesia sekaligus pusat keanekaragaman hayati dan budaya dunia.
Dengan kekayaan hutan, mangrove, wilayah pesisir, laut dan keanekaragaman budaya, forum ini mendorong agar pembangunan Papua tidak hanya diukur berdasarkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
PAPEDA Summit memusatkan pembahasan pada lima agenda strategis, yakni penyelarasan kebijakan pusat dan daerah untuk pembangunan berkelanjutan dan aksi iklim; pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat; pengembangan Ekonomi Alam Baru (New Nature Economy); penguatan kedaulatan pangan dan energi; serta integrasi ilmu pengetahuan, inovasi dan kearifan lokal melalui pendekatan ridge-to-reef atau pembangunan dari pegunungan hingga laut.
Selama tiga hari, agenda forum terbagi dalam tiga tema besar. Hari pertama mengangkat “Kepemimpinan dan Komitmen”, hari kedua “Masyarakat Adat dan Ekosistem”, dan hari ketiga “Pembiayaan dan Ekonomi Masa Depan.”
Rangkaian kegiatan terdiri atas lima sesi pleno dan 15 sesi paralel dengan sekitar 100 pembicara dan moderator dari berbagai latar belakang.
Tidak hanya konferensi, PAPEDA Summit juga menghadirkan PAPEDA Expo yang menampilkan berbagai praktik baik dan inisiatif dari Tanah Papua. Peserta juga dijadwalkan mengikuti kunjungan lapangan ke kawasan hutan adat, ekowisata serta berbagai inisiatif berbasis komunitas.
Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu berharap forum besar tersebut mampu melahirkan dampak nyata bagi masyarakat Papua.
“Saya berharap PAPEDA Summit ini tidak hanya menjadi sekadar pertemuan. Kehadiran kita yang begitu banyak harus memberi dampak yang lebih luas,” ujarnya.
Sementara itu, Menko Pangan Zulkifli Hasan menegaskan pembangunan Papua harus memberikan ruang dan kepercayaan yang lebih besar kepada masyarakat adat.
“Saya percaya Papua harus diberi kepercayaan penuh,” katanya.
PAPEDA Summit 2026 pun diharapkan menjadi titik temu berbagai kekuatan di Tanah Papua untuk membangun model pembangunan yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, budaya dan ekonomi. (Oke)







