Maharani Tyas Utami, Srikandi Muda IAIN Sorong yang Ajak Generasi Muda Kritis dan Pulihkan Karhutla

oleh -26 Dilihat

SORONG, PBD – Maharani Tyas Utami, Ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) IAIN Sorong periode 2026–2027, mengajak generasi muda di Provinsi Papua Barat Daya untuk tetap kritis terhadap berbagai persoalan daerah, sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Ajakan tersebut disuarakan Maharani saat membacakan Deklarasi Sumpah Pemuda usai penanaman ratusan bibit pohon di lahan bekas terbakar Bukit Wisata Rohani Malanu, Kota Sorong, Minggu (1/11/2026).

Perempuan kelahiran 25 Maret 2005 yang akrab disapa Rani ini menjadi salah satu representasi generasi muda perempuan yang aktif mengambil peran dalam gerakan mahasiswa dan kepemimpinan organisasi.

Jika di Jakarta ada Fatimah Azahra sebagai Presiden Mahasiswa BEM Universitas Indonesia, maka di Sorong ada Maharani Tyas Utami yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Sorong.

Jejak kepemimpinan Rani telah tumbuh sejak bangku sekolah. Ia mengawali pendidikannya di SD Al Irsyad, kemudian melanjutkan ke MTs Sains Al Gebra dan MAN Kota Sorong.

Pengalaman organisasinya terbangun secara bertahap. Saat duduk di bangku MTs, ia dipercaya menjadi Koordinator Komunikasi dan Informasi (Kominfo) OSIS. Selanjutnya, ia mengemban amanah sebagai Sekretaris Dewan Ambalan, Bendahara Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum, hingga kini memimpin Dewan Mahasiswa IAIN Sorong periode 2026–2027.

Selain aktif berorganisasi, Rani juga kerap mengikuti berbagai perlombaan sebagai bagian dari proses pengembangan diri dan kapasitasnya sebagai mahasiswa.

Dalam pandangannya, generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah berbagai persoalan yang dihadapi daerah, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Rani menyoroti lambatnya pemerintah dalam menangani persoalan karhutla. Menurutnya, penanganan bencana lingkungan membutuhkan respons yang cepat, serius, dan langkah nyata agar dampaknya tidak semakin meluas.

Namun, ia menegaskan bahwa mahasiswa juga perlu mengambil bagian dalam menghadirkan solusi, bukan sekadar menyampaikan kritik.

Salah satu langkah yang dapat didorong adalah aksi reboisasi atau penanaman kembali kawasan yang terdampak, disertai edukasi lingkungan, pencegahan kebakaran, serta kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah.

Bagi Rani, sikap kritis dan kontribusi nyata harus berjalan beriringan. Mahasiswa perlu berani menyuarakan kepentingan masyarakat, tetapi juga hadir menawarkan gagasan dan ikut bekerja untuk perubahan.

Semangat itulah yang menjadi pesan Maharani dalam momentum Sumpah Pemuda, bahwa masa depan Papua Barat Daya tidak hanya menunggu kebijakan, tetapi juga membutuhkan keberanian, kepedulian, dan aksi nyata dari generasi mudanya. (oke)

📲
Instal Aplikasi Sorong News
Baca berita Papua Barat Daya lebih cepat langsung dari perangkat Anda.
Cara instal di iPhone/iPad:

1. Buka Sorong News dengan Safari.
2. Tekan Bagikan.
3. Pilih Tambahkan ke Layar Utama.
4. Tekan Tambah.
Instalasi otomatis belum tersedia.

Gunakan menu browser: Install App, Install, atau Add to Home Screen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *