SORONG, PBD – Masyarakat Kota Sorong diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kualitas udara setelah hasil pemantauan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (PAG) Sorong menunjukkan kualitas udara berada pada kategori Tidak Sehat selama sebagian besar periode pengamatan.
Harashta Yuqdha Anzar, S.Tr.Klim
PMG Pertama Bidang Data dan Informasi
Stasiun Pemantau Atmosfer Global Sorong pada keterangan persnya, Jumat (2/10/2026) mengatakan PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil, yakni ≤2,5 mikrometer, yang dapat terbawa massa udara dan masuk ke saluran pernapasan.
Berdasarkan data PAG Sorong, selama periode 1 Oktober 2026 pukul 09.00 WIT hingga 2 Oktober 2026 pukul 08.00 WIT, sebanyak 22 dari 24 jam pengamatan berada pada kategori Tidak Sehat, sementara dua jam lainnya berada pada kategori Sedang. BMKG mengklasifikasikan konsentrasi PM2.5 sebesar 55,5–150,4 µg/m³ sebagai kategori Tidak Sehat. �
Ia menjelaskan bahwa peningkatan konsentrasi PM2.5 di Kota Sorong secara umum dipengaruhi massa udara dari arah Selatan dan Tenggara yang membawa partikulat dari wilayah yang memiliki banyak titik panas atau hotspot menuju lokasi pengamatan.
“Selama periode pengamatan, 22 dari 24 jam berada pada kategori Tidak Sehat. Peningkatan konsentrasi PM2.5 secara umum dipengaruhi oleh massa udara dari arah Selatan dan Tenggara yang membawa partikulat dari wilayah dengan banyak hotspot menuju lokasi pengamatan,” jelas Harashta.
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan tingginya jumlah hotspot yang terpantau di wilayah Papua Barat Daya selama bulan September. Data menunjukkan terdapat 963 hotspot, dengan rincian 869 titik atau 90,24 persen berada pada tingkat kepercayaan sedang, 72 titik atau 7,48 persen tingkat kepercayaan rendah, dan 22 titik atau 2,28 persen tingkat kepercayaan tinggi.
Sebaran hotspot terbanyak berada di Kabupaten Sorong Selatan sebanyak 558 titik, disusul Raja Ampat 177 titik, Tambrauw 117 titik, Kabupaten Sorong 95 titik, Kota Sorong 9 titik, dan Maybrat 7 titik.
Selain itu banyaknya hotspot di wilayah Papua Selatan, Kaimana dan Fakfak menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, terutama ketika kondisi angin membawa partikulat menuju Kota Sorong.
Dengan kondisi kualitas udara yang masuk kategori Tidak Sehat, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik yang berat. BMKG juga merekomendasikan pengurangan aktivitas luar ruangan dan penggunaan masker ketika kualitas udara berada pada kategori Tidak Sehat.
Masyarakat juga diminta menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikulat, menghindari aktivitas pembakaran terbuka, serta menutup pintu dan jendela rumah apabila kondisi udara di luar mulai berasap.
“Untuk masyarakat, kami mengimbau agar mengurangi aktivitas di luar ruangan, mengurangi paparan asap dengan menggunakan masker yang sesuai, menghindari pembakaran di ruang terbuka, serta menutup pintu dan jendela saat kondisi berasap,” ujar Harashta.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perkembangan kualitas udara dan informasi resmi BMKG, karena kondisi kualitas udara dapat berubah mengikuti dinamika angin dan penyebaran partikulat. BMKG menyediakan informasi konsentrasi PM2.5 dan peringatan dini kualitas udara untuk membantu masyarakat menyesuaikan aktivitasnya.
Khusus anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan, kewaspadaan perlu ditingkatkan dan aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi ketika kualitas udara masih berada pada kategori Tidak Sehat. (oke)







