SORONG, PBD – Sorak takbir menggema di Halaman MAN Kota Sorong, Sabtu malam (4/7/2026). Di antara riuh tepuk tangan para kafilah, nama Kabupaten Tambrauw diumumkan sebagai Juara Umum Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) II Provinsi Papua Barat Daya dengan perolehan 390 poin.
Bagi banyak orang, kemenangan itu mungkin hanya angka di papan klasemen. Namun bagi masyarakat Tambrauw, kemenangan tersebut adalah sebuah kisah panjang tentang perjuangan, keyakinan, dan harapan yang akhirnya berbuah manis.
Tambrauw bukanlah daerah yang selama ini dijagokan dalam ajang MTQ. Kabupaten yang sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan dan pedalaman itu memiliki jumlah penduduk Muslim yang relatif sedikit dibandingkan daerah lain di Papua Barat Daya. Keterbatasan akses, pembinaan, hingga fasilitas menjadi tantangan yang harus mereka hadapi setiap tahun.
Namun keterbatasan itu tidak pernah menghalangi semangat mereka mencintai Al-Qur’an.
Saat nama Tambrauw diumumkan sebagai juara umum, haru langsung menyelimuti para pendamping dan peserta. Air mata bahagia tak mampu dibendung.
Ketua Kafilah Kabupaten Tambrauw, Ahsan Wahab, mengaku kemenangan tersebut benar-benar di luar dugaan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada LPTQ Provinsi Papua Barat Daya dan seluruh panitia yang telah bekerja keras sehingga pelaksanaan MTQ berjalan dengan baik. Kami dari Kabupaten Tambrauw tidak menyangka bisa menjadi juara umum. Saya sangat terharu, karena selama beberapa tahun juara umum sering diraih Kota Sorong. Alhamdulillah, dengan izin Allah, tahun ini kami bisa meraih juara.” ujar Ahsan bergetar.
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa besar makna kemenangan tersebut. Bukan sekadar trofi, tetapi pengakuan bahwa daerah kecil di pedalaman juga mampu berdiri sejajar dengan daerah lain.
Perjalanan menuju kemenangan tidak ditempuh dalam semalam. Di balik setiap medali terdapat latihan panjang, pembinaan yang konsisten, serta pengorbanan para pelatih, pembina, dan keluarga peserta.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tambrauw, Alexander Setitit, menyebut keberhasilan ini sebagai buah dari kerja keras seluruh tim.
“MTQ tingkat provinsi kali ini sangat membanggakan. Tambrauw bukan kabupaten yang diunggulkan, tetapi tiba-tiba muncul di permukaan dan menjadi juara. Ini hasil perjuangan teman-teman semua, pemerintah daerah, Kementerian Agama, para pembina, dan terutama para peserta. Perjuangan selama ini tidak sia-sia.” imbuh Alexander.
Menurutnya, kemenangan ini membuktikan bahwa prestasi tidak ditentukan oleh besar kecilnya daerah maupun jumlah penduduk.
Ia berharap keberhasilan tersebut menjadi awal dari prestasi yang lebih besar.
“Kami berharap perjuangan ini berlanjut sampai tingkat nasional. Kami ingin membuktikan bahwa dari Tambrauw juga bisa lahir para juara yang membawa pulang prestasi untuk Papua Barat Daya,” harapnya.
Keberhasilan Tambrauw juga menjadi simbol bahwa pembinaan Al-Qur’an dapat tumbuh di mana saja. Di tengah masyarakat yang majemuk, semangat toleransi dan kebersamaan justru menjadi kekuatan yang mengantarkan mereka menuju puncak prestasi.
Kemenangan ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa daerah dengan komunitas Muslim minoritas sulit bersaing dalam MTQ. Justru dari wilayah yang jauh dari pusat keramaian itulah lahir semangat luar biasa untuk belajar, berlatih, dan mengharumkan nama daerah.
Kini, trofi juara umum bukan lagi sekadar milik Tambrauw. Ia menjadi milik seluruh masyarakat Papua Barat Daya, sebagai bukti bahwa dengan pembinaan yang baik, kerja keras, doa, dan keikhlasan, tidak ada yang mustahil.
Dari pedalaman Tambrauw, lahirlah sebuah pesan yang kuat, prestasi tidak mengenal batas geografis maupun jumlah, yang menentukan adalah tekad, kerja keras, dan keyakinan kepada Allah SWT.
Perjalanan Tambrauw belum berakhir. Juara umum MTQ II Provinsi Papua Barat Daya menjadi langkah awal menuju panggung nasional, membawa harapan baru bahwa dari ujung barat Pulau Papua akan lahir qari, qariah, hafiz, dan hafizah yang mampu mengharumkan nama Papua Barat Daya di tingkat Indonesia. (Oke)







