SORONG, PBD – Keluarga korban menggelar aksi demo damai di depan Bandara DEO Sorong, tepatnya di Taman Sorong City, Kamis (29/10/2026), terkait kematian anggota Kopassus Letda Inf Jihad Ahmad Al Rasid di Solo, Jawa Tengah Sabtu (24/10/2026).
Massa aksi dari Suku Moi Maya Misol ini menuntut keadilan atas tewasnya Letda Inf Jihad Ahmad Al Rasid yang diduga ditembak oleh rekan sejawatnya di Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Aksi yang dimulai sejak pagi itu dipusatkan di Taman Sorong City depan Bandara DEO Sorong. Massa datang dengan membawa spanduk dan melakukan orasi secara bergantian. Mereka menilai kematian Letda Jihad janggal dan membutuhkan penjelasan resmi.
Letda Inf Jihad Ahmad Al Rasid diketahui merupakan putra terbaik asal Suku Moi Maya Misool, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Ia dikenal sebagai sosok yang berprestasi dan berhasil lolos menjadi perwira di kesatuan Kopassus TNI AD.
Kabar kematiannya mengejutkan keluarga besar. Pasalnya, Jihad dikenal sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit. Informasi awal yang diterima keluarga menyebutkan adanya dugaan penembakan oleh rekan sejawat. Namun, hingga aksi demo digelar, keluarga mengaku belum pernah menerima kronologi resmi yang utuh dari institusi TNI.
Dalam orasi tersebut, salah seorang keluarga korban, Muhammad Damin Lei Tafalas, dengan tegas meminta agar kasus kematian Jihad Ahmad Al Rasid segera diusut tuntas secara terang benderang dan transparan.
“Kami keluarga besar Suku Moi Maya menuntut keadilan. Kami minta kasus kematian anak kami diusut tuntas secara terang benderang. Jangan ditutup-tutupi,” tegas Damin di hadapan massa.
Ia juga meminta agar DPR Papua Barat Daya (PBD) dan Majelis Rakyat Papua (MRP) PBD mendukung pengungkapan kasus dugaan penembakan terhadap Jihad Ahmad Al Rasid sampai kepada Presiden RI Prabowo Subianto.
Menurut Damin, dukungan dari lembaga legislatif dan lembaga kultur Orang Asli Papua sangat penting untuk mengawal kasus ini agar tidak hilang begitu saja dan mendapat atensi dari pemerintah pusat.
“Kami minta DPR PBD dan MRP PBD mendukung kami. Kami minta kasus ini sampai kepada Presiden Prabowo Subianto. Ini putra terbaik Moi Maya, kebanggaan kami,” ujarnya.
Damin mengaku bahwa hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari institusi TNI kepada keluarga korban terkait penyebab meninggalnya Jihad Ahmad Al Rasid. Keluarga hanya menerima kabar duka tanpa penjelasan detail.
“Kami hanya diberitahu Jihad meninggal dunia. Tidak ada penjelasan bagaimana kejadiannya, di mana tepatnya, dan apa penyebabnya. Sebagai keluarga, kami berhak tahu kebenarannya,” pungkasnya.
Dalam aksi tersebut, massa membacakan 5 poin tuntutan resmi sebagai berikut:
1. Bentuk Tim Investigasi Independen dalam mengungkap kasus meninggalnya anak kami Alm. Letda Inf Jihad Ahmad Al-Rasyid.
2. Lakukan penyelidikan secara transparan, jujur dan adil serta komunikatif terkait setiap perkembangan penyelidikan kepada keluarga almarhum dan masyarakat adat Maya Misool.
3. Hukum seberat-beratnya pelaku dengan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4. Para pelaku dan kesatuan harus bertanggung jawab terhadap pelanggaran adat dan akan dibicarakan setelah kasus terungkap.
5. MRP PBD, Fraksi Otsus DPR PBD, Fraksi Otsus DPRK Raja Ampat, DAS Maya Kalanafat, LMA PBD, Dewan Adat Papua dan semua lembaga kultur di atas Tanah Papua agar bersama-sama mengawal proses penyelidikan ini.
Keterbukaan informasi kepada keluarga korban menjadi hal yang krusial untuk menjaga kepercayaan publik. Tanpa transparansi, spekulasi liar akan mudah berkembang dan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap institusi.
Keluarga berharap keadilan segera ditegakkan atas kematian Letda Inf Jihad Ahmad Al Rasid. Aksi demo yang dikawal personel Polresta Sorong Kota berjalan aman dan tertib. Arus lalu lintas di depan Bandara DEO yang sempat macet kini kembali normal. (Dav)


