Antisipasi Tumpahan Minyak di Laut, Pertamina Pastikan Oil Spill Response Siaga 24 Jam

oleh -6 Dilihat

SORONG, PBD – Potensi tumpahan minyak di laut menjadi salah satu risiko yang harus diantisipasi dalam aktivitas distribusi dan pengelolaan energi. Karena itu, Pertamina memastikan kesiapan Oil Spill Response selama 24 jam untuk merespons cepat apabila terjadi insiden pencemaran minyak, khususnya di wilayah perairan Sorong dan Papua Barat Daya.

Kesiapan tersebut disampaikan Doctor Captain Ricky Mambrasar, M.Mar, selaku Marine Terminal Safety Inspector (MTSI) Pertamina, didampingi Field Terminal Manager Sorong Rachmad K. Utomo dan HSE Field Terminal Supervisor I Made Agus Wirawan.

Menurut Ricky, kesiapsiagaan menghadapi tumpahan minyak tidak hanya bergantung pada personel, tetapi juga didukung berbagai peralatan khusus yang telah disiapkan untuk melokalisir, menyedot, dan menangani sisa minyak di permukaan laut.

Salah satu peralatan utama adalah oil boom, yang berfungsi mengepung sekaligus membatasi penyebaran tumpahan minyak agar tidak semakin meluas. Pertamina memiliki dua tim oil boom yang dapat dikerahkan sesuai kebutuhan dan skala kejadian.

Setelah tumpahan berhasil dilokalisir, penanganan dilanjutkan menggunakan oil skimmer pump untuk menyedot atau mengambil minyak dari permukaan laut.

“Oil boom berfungsi untuk mengepung tumpahan minyak. Setelah dikepung, kami memiliki oil skimmer pump untuk membantu menyedot tumpahan minyak yang jatuh ke laut,” jelas Ricky.

Apabila setelah proses penyedotan masih terdapat lapisan tipis minyak atau oil film di permukaan laut, Pertamina juga memiliki oil dispersant yang penggunaannya dilakukan sesuai prosedur penanganan pencemaran minyak. Peralatan tersebut menjadi bagian dari upaya agar tumpahan dapat dilokalisir dan dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan.

Dari sisi kapasitas, Ricky menjelaskan penanganan tumpahan minyak dilakukan dengan mengacu pada standar dan regulasi yang berlaku. Untuk tumpahan sekitar 20 hingga 40 kiloliter (KL), kebutuhan oil boom dapat mencapai sekitar 300 hingga 400 meter, tergantung kondisi serta karakteristik tumpahan di laut.

Pertamina juga menyiagakan kapal pendukung untuk membantu proses penyedotan dan penanggulangan tumpahan minyak. Sementara sejumlah skimmer pump yang tersedia dapat dikerahkan sesuai kebutuhan.

“Skimmer pump kami sudah ready beberapa unit. Jika dibutuhkan, kami membutuhkan sekitar 10 menit untuk mengakses tumpahan minyak,” ujarnya.

Ricky menegaskan, kesiapan Pertamina tidak dibatasi pada kemampuan personel dan peralatan yang berada di Sorong. Jika terjadi insiden dengan skala yang lebih besar dan membutuhkan tambahan sumber daya, dukungan dapat didatangkan dari wilayah atau provinsi lain.

Bahkan, apabila penanganan membutuhkan kekuatan lebih besar, Pertamina dapat berkoordinasi dengan pusat hingga meminta dukungan internasional sesuai kebutuhan dan mekanisme penanggulangan yang berlaku.

“Jika di Sorong kami tidak cukup, kami akan membutuhkan tim dari luar. Apabila dari tim provinsi lain juga tidak cukup, kami akan menghubungi tim secara internasional dan berkoordinasi dengan pusat,” katanya.

Kesiapan tersebut turut diperlihatkan Pertamina ketika terlibat dalam latihan simulasi penanganan kriminal bersenjata di perairan Sorong yang digelar Komando Armada III, Sabtu (29/8/2026).

Dalam latihan tersebut, skenario gangguan keamanan terhadap kapal tanker menjadi bagian dari simulasi yang menguji koordinasi berbagai pihak dalam menghadapi situasi darurat di laut.

Bagi Pertamina, keterlibatan dalam latihan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memastikan kesiapan personel, peralatan dan prosedur penanganan apabila terjadi kondisi darurat yang berpotensi menimbulkan pencemaran minyak.

Di lingkungan Pertamina, Marine Terminal Safety Inspector (MTSI) memiliki peran penting dalam memastikan keselamatan dan kelayakan operasional terminal laut, dermaga (jetty) maupun kapal tangki, terutama ketika berlangsung proses transfer muatan bahan bakar atau bahan berbahaya.

MTSI antara lain melakukan inspeksi terhadap kapal dan fasilitas dermaga, memastikan kesiapan manifold, pipa transfer dan selang muat, serta mengawasi proses loading maupun discharging BBM, minyak mentah dan produk terkait.

Selain itu, MTSI memastikan penerapan aspek Health, Safety, Security and Environment (HSSE) serta melakukan mitigasi terhadap berbagai risiko darurat, termasuk potensi pencemaran lingkungan.

Dengan kesiapan personel, peralatan dan dukungan lintas wilayah tersebut, Pertamina memastikan respons terhadap insiden tumpahan minyak tidak hanya bersifat reaktif, tetapi telah dipersiapkan melalui sistem penanggulangan yang terukur.

“Artinya, apabila ada tumpahan minyak di Kota Sorong maupun di wilayah perairan Papua Barat Daya, kami dari Pertamina siap 24 jam untuk penanggulangan,” tegas Ricky. (Oke)

📲
Instal Aplikasi Sorong News
Baca berita Papua Barat Daya lebih cepat langsung dari perangkat Anda.
Cara instal di iPhone/iPad:

1. Buka Sorong News dengan Safari.
2. Tekan Bagikan.
3. Pilih Tambahkan ke Layar Utama.
4. Tekan Tambah.
Instalasi otomatis belum tersedia.

Gunakan menu browser: Install App, Install, atau Add to Home Screen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *