SORONG, PBD – Berangkat dari Sorong, Papua Barat Daya, Salwa Mulalinda berhasil menembus salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, Universitas Indonesia (UI).
Putri kelahiran Sorong, 18 tahun silam yang tumbuh dan besar di Tanah Papua tersebut kini resmi menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Komputer, Program Studi Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) Universitas Indonesia setelah diterima melalui jalur Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB).
Perjalanan Salwa menuju UI tidak berlangsung mudah. Sebelum mendapatkan kesempatan melalui PPKB, lulusan MAN Insan Cendekia Sorong itu sempat mengikuti beberapa jalur seleksi masuk perguruan tinggi, termasuk SNBP dan SNBT di Perguruan tinggi negeri lainnya. Namun, kesempatan tersebut belum berpihak kepadanya.
Alih-alih menyerah, Salwa justru mencari peluang lain. Ia kemudian mendapatkan informasi mengenai jalur PPKB yang diberikan melalui sekolah. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan dengan mendaftarkan diri dan memenuhi berbagai persyaratan, termasuk menulis esai mengenai alasan memilih Universitas Indonesia dan program studi yang ingin ditempuh.
“Prinsip saya adalah mencoba. Kita tidak pernah tahu dari mana keberuntungan itu datang, atau doa orang tua yang mana yang dikabulkan. Jadi, kalau ada kesempatan, saya akan mencoba,” kata Salwa.
Pilihan terhadap Kecerdasan Artifisial juga lahir dari ketertarikannya melihat perkembangan teknologi yang semakin pesat. Menurut Salwa, kecerdasan artifisial kini telah masuk ke berbagai aspek kehidupan manusia.
Namun, ia menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Sekarang kebutuhan manusia sudah banyak yang beralih ke kecerdasan artifisial. Tetapi menurut saya, perkembangan AI tetap harus mengedepankan sisi humanis atau kemanusiaan,” ujarnya.
Sebelum memilih UI, Salwa sebenarnya telah mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Namun, dengan berbagai pertimbangan, ia memilih melepaskan kesempatan tersebut dan mengambil UI karena bidang yang ditawarkan lebih sesuai dengan minat dan peminatan yang ingin dikembangkannya.
Kesempatan melalui jalur prestasi PPKB tersebut juga tidak terlepas dari rekam jejak Salwa yang aktif mengikuti berbagai kegiatan dan kompetisi sejak sekolah. Ia pernah mengikuti O2SN, kompetisi robotika, serta sejumlah perlombaan dan kegiatan lainnya. Serta menjaga nilai rata-rata raport agar tetap stabil sejak kelas 10 hingga kelas 12.
Meski tidak selalu keluar sebagai juara pertama, Salwa menganggap setiap kompetisi sebagai proses pembelajaran sekaligus pintu menuju kesempatan berikutnya.
“Tidak harus selalu menjadi juara pertama. Yang penting kita punya kemauan dan usaha untuk mencoba. Karena kita tidak tahu kesempatan itu akan datang dari mana,” katanya.
Menjadi putri asal Papua Barat Daya yang kini berkuliah di Universitas Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi Salwa. Namun, dibalik pencapaian tersebut terdapat perjuangan panjang keluarga, terutama sang ibu yang selama ini menjadi orang tua tunggal.
Salwa menyampaikan rasa terima kasih kepada ibunya yang telah berjuang keras mengantarkannya hingga berada di titik awal perjalanan baru sebagai mahasiswa UI.
Ia berharap pendidikan yang bakal ditempuh selama kurang lebih empat tahun dapat menjadi bekal untuk kembali ke Tanah Papua dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan serta masyarakat.
“Saya berharap ilmu yang saya dapatkan nanti bisa saya bawa kembali ke Tanah Papua dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, ibunda Salwa, Olha Irianti Mulalinda yang keseharian bekerja sebagai jurnalis mengaku bersyukur sekaligus bangga karena anaknya berhasil diterima di Universitas Indonesia melalui jalur prestasi PPKB.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani Salwa sekaligus dukungan keluarga.
“Alhamdulillah, kami sebagai orang tua tentu bangga karena anak kami bisa tembus melalui jalur prestasi PPKB di Universitas Indonesia,” ujarnya.
Namun, Ia menyadari bahwa perjalanan pendidikan Salwa di UI juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain uang kuliah dan biaya hidup, terdapat kebutuhan lain seperti laptop, buku, praktikum, serta berbagai fasilitas penunjang pendidikan.
Karena itu, keluarga akan terus berupaya mencari berbagai peluang, termasuk beasiswa, untuk mendukung Salwa menyelesaikan pendidikannya.
“Kami akan tetap berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Kami juga berharap ada dukungan juga dari pemerintah daerah karena keberhasilan anak Papua berkuliah di perguruan tinggi terbaik seperti UI juga menjadi kebanggaan bagi Papua Barat Daya,” katanya.
Namun Ia percaya bahwa setiap anak akan membawa rejekinya masing-masing.
Keluarga Salwa juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik secara moral maupun material.
Dukungan tersebut juga diberikan selama Salwa menjalani rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Universitas Indonesia yang berlangsung lebih dari satu bulan sejak pemeriksaan kesehatan pada 24 Juli dan berakhir pada 18 Agustus 2026 lalu.
Kini, dari Sorong, Salwa membawa mimpi besar ke kampus Universitas Indonesia. Ia menjadi salah satu contoh bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mencoba dan bahwa anak-anak Papua memiliki kesempatan untuk bersaing di tingkat nasional.
Pesannya sederhana kepada generasi muda yang sedang mengejar cita-cita yaitu jangan takut mencoba.
“Untuk meraih kesuksesan memang tidak mudah. Kita membutuhkan kerja keras, usaha dan doa. Kalau belum mendapatkan beasiswa, jangan patah semangat. Terus cari peluang karena sekarang banyak sekali kesempatan beasiswa dan jangan lupa serahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah yang memberikan kemudahan,” pungkasnya optimis. (***)


