SORONG, PBD – Indonesia memelopori skema pembiayaan konservasi pari manta melalui Manta Impact Bond, sebuah instrumen pembiayaan berbasis hasil (outcomes-based financing) yang disebut sebagai skema pertama di dunia untuk mendukung konservasi spesies pari manta.
Inisiatif tersebut diprakarsai Konservasi Indonesia (KI) bersama Conservation International (CI), dengan Raja Ampat, Papua Barat Daya, menjadi salah satu lokasi prioritas dalam perancangan program konservasi jangka panjang.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, pari manta tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan pariwisata bahari yang berkelanjutan.
“Pari manta merupakan aset ekologis yang harus dijaga bersama. Pari manta bukan sekadar bagian dari keanekaragaman hayati laut, keberadaannya memiliki nilai ekologis, pendidikan, penelitian, serta potensi ekonomi yang dapat mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan dan peningkatan manfaat bagi masyarakat lokal,” ujar Elisa.
Raja Ampat memiliki posisi penting dalam konservasi manta global. Kawasan ini menjadi habitat penting bagi pari manta karang (Mobula alfredi) dan pari manta oseanik (Mobula birostris), dengan populasi manta karang Raja Ampat disebut sebagai salah satu populasi terbesar di dunia.
Secara ekonomi, seekor pari manta diperkirakan dapat memberikan nilai hingga USD1 juta sepanjang hidupnya melalui aktivitas pariwisata bahari, termasuk penyelaman, retribusi kawasan, serta perputaran ekonomi masyarakat pesisir. Nilai tersebut turut menjadi salah satu alasan pemerintah Indonesia memberikan perlindungan penuh terhadap pari manta sejak 2014.
Namun, perlindungan hukum dinilai perlu diperkuat dengan pembiayaan konservasi yang berkelanjutan.
Sustainable Finance Manager Konservasi Indonesia, Ruth Aprilia, menjelaskan Manta Impact Bond saat ini masih berada pada tahap perancangan. Besaran dan sumber modal awal (upfront capital) masih dikaji melalui kajian tapak dan konsultasi dengan para pemangku kepentingan di lokasi prioritas.
“Modal dari penyandang dana awal disalurkan melalui Manta Resilience Fund untuk mendanai perlindungan populasi dan habitat pari manta, sekaligus meningkatkan manfaat ekowisata bagi komunitas lokal dan masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan pari manta,” jelas Ruth.
Menurutnya, penyandang dana awal baru akan menerima pengembalian pokok beserta imbal hasil apabila target konservasi yang telah ditetapkan berhasil dicapai dan diverifikasi secara independen.
Sementara itu, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, mengatakan rancangan Manta Impact Bond disusun berdasarkan kajian ilmiah dan kebutuhan konservasi di tingkat tapak.
Dari lokakarya bersama pemangku kepentingan, sedikitnya terdapat enam isu prioritas yang perlu ditangani, yakni penangkapan ilegal, praktik wisata yang tidak bertanggung jawab, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, pencemaran sampah dan limbah, sedimentasi habitat, serta risiko tertabrak kapal dan speedboat.
“Proses saat ini berfokus pada penilaian kondisi awal, penyusunan strategi konservasi untuk 20 tahun ke depan, kajian kelayakan, serta perancangan struktur Manta Impact Bond,” kata Iqbal.
Ia menyebutkan, Manta Impact Bond direncanakan mulai dilaksanakan pada awal 2029 setelah seluruh tahapan perancangan dan kajian selesai.
Dalam skema tersebut, pemantauan ilmiah menjadi bagian penting karena pencapaian target konservasi harus dapat diukur dan diverifikasi secara independen.
Lead Conservation Scientist Elasmobranch Institute Indonesia, Edy Setyawan, mengatakan pemantauan populasi melalui metode photo-ID, pergerakan individu, hingga kondisi kesehatan habitat akan menjadi bagian dari pengukuran capaian ekologis.
“Integrasi data pemantauan populasi melalui photo-ID, pergerakan, dan kesehatan habitat penting untuk memverifikasi pencapaian ekologis serta memastikan kebijakan pengelolaan adaptif berbasis bukti ilmiah,” ujarnya.
Ditingkat pengelolaan kawasan, Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat, Hasan Makassar, menyatakan kesiapan untuk mengawal implementasi program tersebut.
“Sebagai mandatori SUOP, kami berkomitmen memastikan setiap alokasi pendanaan berujung pada penguatan aksi nyata patroli pengawasan, pelestarian habitat, serta pendampingan masyarakat adat agar seluruh pemanfaat kawasan berpegang teguh pada prinsip berkelanjutan,” ungkap Hasan.
Melalui Manta Impact Bond, konservasi pari manta di Raja Ampat diarahkan tidak hanya pada perlindungan spesies, tetapi juga penguatan tata kelola kawasan, pemanfaatan pariwisata secara berkelanjutan, serta peningkatan manfaat bagi masyarakat lokal dan masyarakat adat. (**/oke)







