Kisah Lambert Jitmau Mengubah Wajah Kota Sorong, Dari Dicaci Hingga Kini Dipuji

oleh -166 Dilihat

SORONG, PBD – Tidak semua gagasan besar langsung mendapat tepuk tangan. Ada yang justru disambut keraguan, kritik, bahkan ancaman. Namun, waktu kerap menjadi saksi yang memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan yang dahulu dianggap mustahil perlahan menjelma menjadi kenyataan.

Kisah itu melekat pada sosok Drs. Ec. Lambert Jitmau, mantan Wali Kota Sorong yang meninggalkan jejak pembangunan di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Salah satu jejak yang kembali mengingatkannya pada perjalanan tersebut adalah kawasan reklamasi pantai yang kini menjadi lokasi berdirinya Mal Sorong Modern City (SMC).

Saat menghadiri grand opening Mal SMC, Jumat (23/10/2026), Lambert mengenang bagaimana kawasan yang kini berkembang menjadi pusat aktivitas modern itu bermula dari sebuah gagasan pembangunan yang ia rintis ketika memimpin Kota Sorong.

“Tempat ini berdiri ada pondasinya. Yang meletakkan dasar itu saya, waktu menjadi Wali Kota Sorong,” kata Lambert.

Baginya, pembangunan kawasan reklamasi bukan sekadar mengubah bentang pesisir menjadi lahan baru. Lebih dari itu, kawasan tersebut menjadi bagian dari visi besar untuk mendorong Sorong tumbuh sebagai kota yang lebih maju, memiliki infrastruktur memadai, serta mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Tanah Papua.

Lambert mengakui, perjalanan pembangunan yang ia mulai tidak selalu berjalan mulus. Ia mengenang adanya pihak-pihak yang meragukan langkahnya, melontarkan kecaman, hingga mengancam dirinya ketika sejumlah proyek pembangunan mulai dijalankan. Namun, keraguan itu tidak membuatnya menghentikan langkah.

Ia menyebut pembangunan yang dirintis pada masa kepemimpinannya mencakup reklamasi pantai, pengembangan Bandara Domine Eduard Osok (DEO), pelabuhan, Stadion Bewela, jalan dua jalur, hingga pasar modern.

Bagi Lambert, setiap pembangunan memiliki tantangan tersendiri. Pemimpin, menurutnya, tidak cukup hanya melihat kondisi hari ini, tetapi harus berani membayangkan kebutuhan masyarakat pada masa mendatang.

“Banyak orang sinis sama saya, mengecam saya hingga mengancam saya. Banyak yang pesimis atau lipat tangan, tetapi akhirnya semua tepuk tangan,” ujarnya.

Pernyataan itu menggambarkan bagaimana ia memandang pembangunan adalah sebuah keputusan yang diambil hari ini mungkin belum sepenuhnya dipahami, tetapi manfaatnya diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat pada tahun-tahun berikutnya.

Dalam perjalanan pembangunan Kota Sorong, Lambert membawa visi menjadikan kota ini sebagai salah satu kota termaju di Papua. Visi tersebut, menurutnya, harus diwujudkan melalui kerja nyata, bukan berhenti sebagai slogan.

Ia meyakini, perubahan sebuah kota tidak terjadi dalam semalam. Dibutuhkan keberanian mengambil keputusan, perencanaan, serta ketekunan menghadapi berbagai tantangan.

“Apa yang terjadi saat ini bukan jatuh dari langit, tetapi karya. Karya yang Tuhan utus orang-orang tertentu untuk membangun sesuatu yang tidak ada menjadi ada,” tuturnya.

Lambert juga memandang jabatan sebagai amanah yang memiliki batas waktu. Seseorang mungkin tidak selamanya memegang kekuasaan, tetapi karya yang ditinggalkannya dapat terus dimanfaatkan dan dikenang oleh generasi berikutnya.

Karena itu, ia menyampaikan pesan kepada para pejabat di Papua agar tidak hanya menikmati hasil pembangunan yang telah diwariskan para pendahulu.

“Saya pesan kepada semua pejabat di Papua, jangan datang menikmati sejarah, tetapi kalau boleh menciptakan sejarah. Kalau bisa, menciptakan sejarah untuk ditinggalkan kepada anak cucu,” katanya.

Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa pembangunan daerah seharusnya berlangsung lintas kepemimpinan. Setiap pemimpin memiliki kesempatan untuk melanjutkan fondasi yang telah ada sekaligus menghadirkan terobosan baru sesuai kebutuhan masyarakat.

Gagasan pembangunan kawasan modern di pesisir Sorong juga mendapat apresiasi dari Founder Multi Modern Grup, Sonny Waplau. Ia menyampaikan kebanggaan terhadap sosok Lambert Jitmau yang dinilainya memiliki keberanian dan cara berpikir maju dalam pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di Papua.

Apresiasi tersebut menjadi pengakuan atas pentingnya keberanian seorang pemimpin dalam membuka ruang bagi perubahan. Pembangunan kawasan yang kini ditempati Mal SMC memperlihatkan bagaimana gagasan pengembangan wilayah dapat menjadi bagian dari perjalanan pertumbuhan kota.

Kehadiran SMC diharapkan tidak hanya menghadirkan pusat perbelanjaan baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi, menggerakkan aktivitas usaha, menciptakan kesempatan kerja, dan menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi.

Dalam konteks itu, hubungan antara visi pembangunan pemerintah dan keberanian pelaku usaha menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan daerah. Infrastruktur dan penataan kawasan dapat menjadi fondasi, sementara investasi dan aktivitas ekonomi berpotensi menghidupkan kawasan tersebut.

Bagi Lambert, berdirinya Mal SMC menjadi salah satu wujud perkembangan Kota Sorong yang dahulu ia bayangkan. Ia berharap pusat modern tersebut mampu memberikan efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian daerah.

“Untuk Mal SMC, saya menciptakan ini sebagai multiplier effect. Pertumbuhan ekonomi ada di sini, lapangan kerja terbuka lebar dan ikon anak muda Papua Barat Daya ada di sini,” ujarnya.

Harapan itu tidak berhenti pada hadirnya bangunan megah di kawasan pesisir. Lebih jauh, SMC diharapkan menjadi ruang bagi pertumbuhan usaha, terbukanya lapangan pemerjaan, aktivitas generasi muda, dan perkembangan gaya hidup masyarakat perkotaan di Papua Barat Daya.

Lambert mengaku bangga melihat pembangunan yang dirintisnya kini dapat dinikmati masyarakat. Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa langkah-langkah yang diambil selama memimpin Kota Sorong merupakan bagian dari pengabdian untuk membawa perubahan.

“Saya diutus oleh Tuhan dan saya dikawal oleh Tuhan untuk membangun Kota Sorong lebih baik,” katanya.

Pada akhirnya, kisah Lambert Jitmau mengingatkan bahwa wajah sebuah kota dibentuk oleh rangkaian gagasan, keputusan, dan kerja yang berlangsung dari satu masa ke masa berikutnya. Sebagian hasilnya terlihat dalam bentuk jalan, fasilitas publik, dan kawasan ekonomi; sebagian lainnya hidup dalam keberanian generasi berikutnya untuk melanjutkan pembangunan.

Dari reklamasi pantai hingga berdirinya Mal SMC, perjalanan itu menjadi pengingat bahwa membangun kota bukan sekadar menghadirkan sesuatu yang baru, melainkan menyiapkan fondasi agar masyarakat memiliki lebih banyak peluang untuk tumbuh dan sejahtera.

Bagi Lambert, sejarah yang sesungguhnya bukan hanya tentang siapa yang pernah memimpin, tetapi tentang apa yang berhasil dibangun dan manfaat apa yang dapat terus dirasakan oleh generasi setelahnya. (oke)

📲
Instal Aplikasi Sorong News
Baca berita Papua Barat Daya lebih cepat langsung dari perangkat Anda.
Cara instal di iPhone/iPad:

1. Buka Sorong News dengan Safari.
2. Tekan Bagikan.
3. Pilih Tambahkan ke Layar Utama.
4. Tekan Tambah.
Instalasi otomatis belum tersedia.

Gunakan menu browser: Install App, Install, atau Add to Home Screen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *