Pasar Pujasera Aimas Disulap Jadi Panggung Budaya, Generasi Muda Papua Tampilkan Tradisi dalam Wajah Modern

oleh -61 Dilihat

SORONG, PBD – Pasar Pujasera Aimas, Kabupaten Sorong, berubah semarak pada 11–12 September 2026. Ruang publik yang sehari-hari menjadi bagian dari aktivitas masyarakat tersebut disulap menjadi panggung kreativitas generasi muda Papua melalui Lomba Tari Kreasi Papua dan Fashion Show yang diselenggarakan Yayasan Kilau Arafuru Abadi.

Kegiatan ini mengangkat semangat pelestarian budaya dengan pendekatan modern. Para peserta diajak menampilkan tradisi Papua melalui gerakan tari, busana, motif, warna, dan ornamen budaya yang dikemas secara kreatif.

Salah satu pendiri Yayasan Kilau Arafuru Abadi, Komarudin, S.Sos., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema kegiatan berbicara tentang bagaimana generasi masa kini dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

“Bagaimana kita menjadi modern tanpa kehilangan jati diri?” demikian salah satu pesan yang disampaikan Komarudin.

Menurutnya, modernitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan tradisi. Sebaliknya, tradisi juga tidak boleh dibiarkan hanya menjadi kenangan masa lalu.

“Tradisi harus hidup, berkembang, dan mampu berbicara kepada generasi masa kini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tari kreasi Papua yang ditampilkan para peserta bukan sekadar rangkaian gerakan, tetapi mengandung nilai, sejarah, simbol, filosofi, serta memori kolektif masyarakat Papua.

Hal serupa terlihat melalui busana yang ditampilkan dalam fashion show. Kain, motif, warna, dan berbagai ornamen yang digunakan peserta tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi bagian dari bahasa budaya yang menggambarkan identitas, asal-usul, serta nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, kreativitas generasi muda dalam mengolah tradisi dengan pendekatan modern dinilai bukan sebagai bentuk meninggalkan budaya, melainkan keberanian membawa budaya Papua memasuki masa depan.

Dibuka Kepala BPKAD Kabupaten Sorong

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Sorong, Oktovianus N. Kalasuat, S.H., M.Si.

Dalam sambutannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga budaya Papua di tengah perkembangan teknologi dan era digital.

Menurutnya, kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan, tetapi juga menjadi tantangan bagi keberlangsungan budaya lokal. Ia berharap budaya Papua tidak hanya menjadi sesuatu yang dilihat melalui layar, tetapi tetap hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat.

Setelah sesi seremonial pembukaan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan seminar dan workshop tentang pentingnya menjaga alam, budaya, dan tradisi.

Sesi ini menghadirkan akademisi dan penggiat budaya Kabupaten Sorong sebagai narasumber. Peserta diajak memahami bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat budaya tersebut tumbuh dan berkembang.

Dalam diskusi, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga alam, menghargai nilai-nilai budaya, serta mempertahankan tradisi agar tetap relevan bagi generasi muda.

Seminar dan workshop menjadi ruang interaksi dan berbagi pengalaman antara generasi muda, akademisi, serta pelaku budaya. Pesan yang dibangun sederhana: menjaga budaya berarti juga menjaga lingkungan dan kehidupan masyarakat yang menjadi tempat budaya itu tumbuh.

Pemilihan Pasar Pujasera Aimas sebagai lokasi kegiatan menjadi bagian dari gagasan Yayasan Kilau Arafuru Abadi bahwa pelestarian budaya tidak harus berlangsung di ruang formal. Budaya dapat tumbuh dan berkembang di ruang publik yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Selain kompetisi tari dan fashion show, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk berpartisipasi. Kehadiran UMKM turut menghidupkan suasana sekaligus membuka ruang interaksi dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi Yayasan Kilau Arafuru Abadi, kegiatan ini bukan hanya tentang perlombaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi pengalaman bagi generasi muda untuk berani tampil, berkarya, dan melihat budaya Papua sebagai sesuatu yang dapat terus dikembangkan.

Kegiatan ditutup oleh Hayyik, yang akrab disapa Cak Hay, salah satu founder Yayasan Kilau Arafuru Abadi. Ia berharap pengalaman selama kegiatan tidak berhenti pada perlombaan, tetapi menjadi langkah awal untuk terus membuka ruang bagi generasi muda, komunitas, dan masyarakat dalam menghadirkan kegiatan positif.

Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Kilau Arafuru Abadi menunjukkan bahwa ruang publik dapat menjadi tempat bertemunya budaya, kreativitas, generasi muda, dan masyarakat.

Dari Pasar Pujasera Aimas, satu pesan sederhana kembali ditegaskan yaitu budaya tidak cukup hanya diwariskan, tetapi harus terus dihidupkan. (**/oke)

📲
Instal Aplikasi Sorong News
Baca berita Papua Barat Daya lebih cepat langsung dari perangkat Anda.
Cara instal di iPhone/iPad:

1. Buka Sorong News dengan Safari.
2. Tekan Bagikan.
3. Pilih Tambahkan ke Layar Utama.
4. Tekan Tambah.
Instalasi otomatis belum tersedia.

Gunakan menu browser: Install App, Install, atau Add to Home Screen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *