SORONG, PBD – Musyawarah Wilayah (Muswil) I Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (Patelki) Papua Barat Daya resmi digelar di Kota Sorong, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum pembentukan kepengurusan definitif DPW Patelki Papua Barat Daya sekaligus memperkuat peran tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) dalam sistem pelayanan kesehatan di daerah.
Muswil perdana tersebut mengusung tema “Menggerakkan Organisasi, Menguatkan Profesi Patelki PBD Menuju Pelayanan Profesionalisme dan Laboratorium Bermutu.” Kegiatan dihadiri Ketua DPW Patelki Papua Barat, Emy Tolanda, Sekretaris Jenderal DPP Patelki Dr. Ally Kafesa, jajaran organisasi Patelki, para delegasi DPC se-Papua Barat Daya serta tamu undangan lainnya.
Ketua Panitia Muswil I Patelki PBD, Lastri Sembiring, dalam laporannya mengatakan, musyawarah wilayah tidak hanya menjadi forum pembentukan organisasi, tetapi juga diarahkan untuk menyusun program kerja, membahas pengembangan organisasi dan profesi, serta memilih dan menetapkan kepengurusan DPW Patelki Papua Barat Daya.
“Musyawarah wilayah ini diharapkan menjadi momentum untuk membangun organisasi yang lebih kuat, sekaligus menjadi ruang evaluasi dan pembelajaran bagi pelaksanaan kegiatan organisasi ke depan,” ujar Lastri.
Sementara itu, Ketua DPW Patelki Papua Barat, Emy Tolanda, menyebut hadirnya DPW Patelki Papua Barat Daya bukan sebagai bentuk perpisahan, melainkan bagian dari perkembangan organisasi dan semakin luasnya pelayanan profesi ATLM di Tanah Papua.
Ia berharap kepengurusan yang terbentuk nantinya mampu menyusun program kerja yang menjawab kebutuhan anggota sekaligus memperkuat hubungan dengan pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan.
“Ini bukan perpisahan, tetapi bertambahnya keluarga dan semakin kuatnya organisasi. Semoga kepengurusan yang terbentuk dapat membawa Patelki semakin maju dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan di Papua Barat Daya,” katanya.
Sekjen DPP Patelki, Dr. Ally Kafesa, menegaskan bahwa ATLM memiliki peran penting dalam sistem pelayanan kesehatan meskipun pekerjaannya kerap berada di balik layar. Hasil pemeriksaan laboratorium, kata dia, menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan diagnosis dan langkah pelayanan terhadap pasien.
Menurutnya, profesi ATLM juga memiliki tanggung jawab besar karena berkaitan langsung dengan ketepatan hasil pemeriksaan. Karena itu, anggota Patelki dituntut bekerja sesuai standar operasional prosedur, menjaga profesionalisme dan terus meningkatkan kompetensi.
“Jangan merasa pekerjaan di laboratorium adalah pekerjaan di belakang layar. Di balik setiap hasil pemeriksaan laboratorium, ada keputusan pelayanan kesehatan dan harapan kesembuhan masyarakat,” pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menyambut baik terbentuknya DPW Patelki Papua Barat Daya. Ia mengajak seluruh anggota organisasi untuk meninggalkan ego sektoral dan membangun kolaborasi dalam mendukung pembangunan kesehatan di daerah.
Menurut Elisa, Muswil hendaknya tidak dimaknai sebagai arena untuk mencari siapa yang menang atau paling hebat, tetapi sebagai forum untuk menyatukan pikiran, gagasan dan komitmen bersama.
“Saya menyambut baik tekad dan niat untuk bersama-sama meninggalkan ego dan berkolaborasi. Dalam musyawarah wilayah bukan soal siapa yang menang atau siapa yang hebat, tetapi bagaimana kita menyatukan pikiran dan berdiskusi bersama,” ujar Elisa.
Elisa menegaskan, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya memandang penguatan tenaga ATLM sebagai bagian penting dari penguatan sistem kesehatan daerah. Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen memberikan dukungan sesuai kewenangan, kemampuan daerah dan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk dalam peningkatan kompetensi, pengembangan profesionalisme, pemenuhan kebutuhan tenaga serta dukungan terhadap sarana dan prasarana laboratorium.
Ia juga berharap Patelki dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dalam pembangunan kesehatan.
“Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri. Pembangunan kesehatan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan dan seluruh masyarakat,” tegasnya.
Kepada kepengurusan Patelki Papua Barat Daya yang nantinya terpilih, Elisa berharap organisasi mampu menjadi semakin solid, mendorong peningkatan kompetensi dan profesionalisme anggota, serta memperjuangkan kesejahteraan anggota tanpa mengesampingkan kepentingan pelayanan kesehatan masyarakat.
Ia juga mengajak seluruh ATLM di Papua Barat Daya untuk terus meningkatkan kompetensi, menjaga integritas dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Jangan pernah merasa bahwa pekerjaan di laboratorium adalah pekerjaan di belakang layar. Karena di balik setiap hasil pemeriksaan laboratorium, ada keputusan pelayanan kesehatan dan harapan kesembuhan masyarakat,” tandasnya.
Muswil I Patelki Papua Barat Daya selanjutnya menjadi ruang bagi para delegasi untuk membahas agenda organisasi, menyusun program kerja serta memilih dan menetapkan kepengurusan DPW Patelki Papua Barat Daya. Rangkaian kegiatan dijadwalkan diakhiri dengan pelantikan pengurus terpilih. (oke)



